2.1
Pengertian Teori dan Belajar
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teori memiliki banyak arti.
Pertama, pendapat yang didasarkan pada penelitian dan penemuan yang didukung
oleh data dan argumentasi, kedua,
penyelidikan eksperimental yang mampu menghasilkan fakta berdasarkan ilmu
pasti, logika, metodologi, dan argumentasi, ketiga, asas dan hukum umum yang
menjadi dasar suatu kesenian atau pun pengetahuan, dan keempat, pendapat, cara, atau aturan untuk melakukan
sesuatu.
Belajar adalah
perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman
atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara
stimulus dan respon.
2.2 Teori-Teori Belajar
2.2.1. Teori Belajar Secara Filosofis
1. Teori Belajar Behaviorisme
Teori behavioristik adalah sebuah teori yang
dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil
dari pengalaman. Teori ini lalu berkembang menjadi aliran
psikologi belajar yang berpengaruh terhadap arah pengembangan
teori dan praktik pendidikan dan pembelajaran yang
dikenal sebagai aliran behavioristik. Aliran ini menekankan pada terbentuknya
perilaku yang tampak sebagai hasil belajar.
Teori behavioristik dengan model hubungan
stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif.
Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau
pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan
penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman.
2. Teori
Belajar Kognitivisme
Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai
protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model
kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi
dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan
hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model
ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.
Peneliti yang mengembangkan teori kognitif ini adalah Ausubel,
Bruner, dan Gagne. Dari ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan
yang berbeda. Ausubel menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang
memiliki pengaruh utama terhadap belajar.Bruner bekerja pada pengelompokkan
atau penyediaan bentuk konsep sebagai suatu jawaban atas bagaimana peserta
didik memperoleh informasi dari lingkungan.
3.
Teori Belajar Konstruktivisme
Kontruksi
berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan
Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya
modern. Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan
dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui
konteks yang terbatas. Pengetahuan bukanlah seperangkat
fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia
harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Dengan teori
konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari
idea dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat
langsung dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih pahamdan
mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa terlibat secara
langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep.
2.2.2
Teori Belajar Secara Psikologis
1. Teori Belajar Behaviorisme
Behaviorisme merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya
dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek–aspek mental. Dengan kata
lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan
perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih
refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai
individu.
Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini,
diantaranya :
a.
Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.
Dari
eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum
belajar, diantaranya:
1.
Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek
yang memuaskan, maka hubungan Stimulus – Respons akan semakin kuat. Sebaliknya,
semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula
hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.
2.
Law of Readiness, artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa
kepuasan organisme itu berasal dari pendayagunaan satuan pengantar (conduction
unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme
untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
3.
Law of Exercise, artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan
Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin
berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.
b.
Classical Conditioning menurut Ivan Pavlov
Dari eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan
hukum-hukum belajar, diantaranya :
1. Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang
dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah
satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan
meningkat.
2. Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang
dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent
conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka
kekuatannya akan menurun.
c.
Operant Conditioning menurut B.F. Skinner
Dari
eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap
burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
1. Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku
diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan
meningkat.
2. Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku
operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus
penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah. Reber
(Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud
dengan operant adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama
terhadap lingkungan. Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului
oleh stimulus, melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu
sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya
sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan
stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.
d.
Social Learning menurut
Albert Bandura
Teori
belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah
sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori
belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura
memandang Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas
stimulus (S-R Bond), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil
interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip
dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama
dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation)
dan penyajian contoh perilaku (modeling).
Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui
pemberian reward dan punishment, seorang individu akan
berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.
Sebetulnya masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar
behavioristik ini, seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan
dan prinsip kebaruan, Guthrie dengan teorinya yang disebutContiguity
Theory yang menghasilkan Metode Ambang (the treshold method), metode
meletihkan (The Fatigue Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The
Incompatible Response Method), Miller dan Dollard dengan teori pengurangan
dorongan.
Kelebihan
Teori Behavioristik
1.
Dapat mengganti stimulus yang satu dengan
stimulus lainnya dan seterusnya sampai reson yang diinginkan muncul
2. Tori ini cocok untuk memperoleh kemampuan yang membutuhkan praktek dan
pembiasaan yang mengandung unsur-unsur kecepatan,spontanitas,dan daya tahan
3.
Teori behavioristik juga cocok diginakan untuk
melatih anak-anak yang msih membutuhkan dominasi peran orang dewasa,suak
mengulangi dan dibiasakan,suka meniru dan sengan dengan bentuk-bentuk
penghargaan langsung.
Kekurangan
Teori Behavioristik
1.
Cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir
linier,konvergen,tidak kreatif,tidak roduktif dan cenderung mendudkkan siswa
sebagai individu yang pasif
2.
Pembelajaran siswa yang berpusat oada guru dan
bersifat mekanistik dan hanya berorientasi pada hasil yang diamati dan di ukur.
3.
Penerapan metode yang salah dalam pembeljaran
mengakibatkan terjadinya poses oembelajaran yang tidak menyenangkan bagi siswa.
2. Teori Belajar Kognitif Piaget
Piaget
merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor aliran
konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan
sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu
teori tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan
kognitif individu meliputi empat tahap yaitu :
a.
Sensory motor
b.
Pre
operational
c.
Concrete
operational
d.
Formal
operational.
Pemikiran
lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu yaitu
asimilasi dan akomodasi. James Atherton (2005) menyebutkan bahwa asisimilasi
adalah “the process by which a person takes material into their mind from
the environment, which may mean changing the evidence of their senses to make
it fit” dan akomodasi adalah “the difference made to one’s mind or
concepts by the process of assimilation”.
Dikemukakannya
pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan
tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi
kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh
interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari
guru.Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau
berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal
dari lingkungan.
Implikasi
teori perkembangan kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
1. Bahasa dan cara berfikir anak
berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan
bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
2. Anak-anak akan belajar lebih baik
apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar
dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
3. Bahan yang harus dipelajari anak
hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
4. Berikan peluang agar anak belajar
sesuai tahap perkembangannya.
5. Di dalam kelas, anak-anak hendaknya
diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor
yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif
dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses
penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran
dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya
interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal
individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan
untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu.
Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi
individu dalam proses pembelajaran.
Menurut
Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu:
1. Motivasi
2. Pemahaman
3.
Pemerolehan
4.
Penyimpanan
5.
Ingatan Kembali
6.
Generalisasi
7. Perlakuan
8.
Umpan balik.
4. Teori
Belajar Gestalt
Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk
atau konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa
tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan.
Menurut Koffka dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang terpenting yaitu :
a.
Hubungan
bentuk dan latar (figure and gound relationship), yaitu menganggap bahwa setiap
bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar
belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya
membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat
samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.
b.
Kedekatan
(proxmity), bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang)
dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
c.
Kesamaan
(similarity), bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang
sebagai suatu obyek yang saling memiliki.
d.
Arah bersama
(common direction), bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah
yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.
e.
Kesederhanaan
(simplicity), bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang
sederhana, penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik
berdasarkan susunan simetris dan keteraturan.
f.
Ketertutupan
(closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau
pengamatan yang tidak lengkap.
Terdapat empat asumsi yang mendasari pandangan Gestalt, yaitu:
a.
Perilaku “Molar“
hendaknya banyak dipelajari dibandingkan dengan perilaku “Molecular”.
Perilaku “Molecular” adalah perilaku dalam bentuk kontraksi otot atau
keluarnya kelenjar, sedangkan perilaku “Molar” adalah perilaku dalam
keterkaitan dengan lingkungan luar. Berlari, berjalan, mengikuti kuliah,
bermain sepakbola adalah beberapa perilaku “Molar”. Perilaku “Molar”
lebih mempunyai makna dibanding dengan perilaku “Molecular”.
b.
Hal yang
penting dalam mempelajari perilaku ialah membedakan antara lingkungan geografis
dengan lingkungan behavioral. Lingkungan geografis adalah lingkungan yang
sebenarnya ada, sedangkan lingkungan behavioral merujuk pada sesuatu yang
nampak. Misalnya, gunung yang nampak dari jauh seolah-olah sesuatu yang indah.
(lingkungan behavioral), padahal kenyataannya merupakan suatu lingkungan yang
penuh dengan hutan yang lebat (lingkungan geografis).
c.
Organisme
tidak mereaksi terhadap rangsangan lokal atau unsur atau suatu bagian
peristiwa, akan tetapi mereaksi terhadap keseluruhan obyek atau peristiwa.
Misalnya, adanya penamaan kumpulan bintang, seperti : sagitarius, virgo, pisces,
gemini dan sebagainya adalah contoh dari prinsip ini. Contoh lain, gumpalan
awan tampak seperti gunung atau binatang tertentu.
d.
Pemberian
makna terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang
dinamis dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Proses pengamatan merupakan
suatu proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang
diterima.
Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
a.
Pengalaman
tilikan (insight), bahwa tilikan memegang peranan yang penting dalam perilaku.
Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik memiliki kemampuan tilikan
yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur dalam suatu obyek atau
peristiwa.
b.
Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning),
kebermaknaan unsur-unsur yang terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam
proses pembelajaran. Makin jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif
sesuatu yang dipelajari. Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan
masalah, khususnya dalam identifikasi masalah dan pengembangan alternatif
pemecahannya. Hal-hal yang dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna
yang jelas dan logis dengan proses kehidupannya.
c.
Perilaku
bertujuan (pusposive behavior), bahwa perilaku terarah pada tujuan. Perilaku
bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada keterkaitannya
dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran akan berjalan
efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya. Oleh karena
itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas pengajaran dan
membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
d.
Prinsip
ruang hidup (life space), bahwa perilaku individu memiliki keterkaitan dengan
lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang diajarkan hendaknya
memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan kehidupan peserta
didik.
e.
Transfer
dalam Belajar; yaitu pemindahan pola-pola perilaku dalam situasi pembelajaran
tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt, transfer belajar terjadi
dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu konfigurasi dalam situasi
tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi konfigurasi lain dalam
tata-susunan yang tepat. Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip
pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan
umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah
menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi
untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh
karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai
prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.
2.3
Pendekatan Pembelajaran IPA di SD
Pendekatan
pembelajaran adalah titik tolak (guru) terhadap proses pembelajaran, yang
merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih
sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan melatari
metode pembelajaran. Beberapa Pendekatan Dalam Pembelajaran IPA di SD
a. Pendekatan Ekspositori
Pendekatan ini lebih bersifat
“memberi tahu”. Artinya guru lebih dominan dalam proses pembelajaran. Dalam hal
ini siswa bersifat pasif, hanya menerima pelajaran yang diberikan
oleh guru. Yang dilakukan guru pada pendekatan ini umumnya adalah memberi
ceramah, mendemonstrasikan sesuatu dan lain-lain.
Keuntungan dengan menggunakan
pendekatan ini adalah bahwa bahan pelajaran dapat diselesaikan dengan cepat dan
dimengerti oleh siswa. Pendekatan ini dapat digambarkan sebagai DDCH (Duduk,
Dengar, Catat, Hafal). Sehingga dalam pendekatan ini gurunya aktif sedangkan
siswanya pasif.
b. Pendekatan Inkuiri
Pendekatan ini lebih bersifat
“mencari tahu”. Artinya siswa sangat aktif mencari sendiri informasi yang ia
perlukan. Dalam pendekatan ini dominasi guru lebih sedikit. Dari penjelasan
tersebut, dapat kita ketahui bahwa pendekatan inkuari bertolak belakang dengan
pendekatan ekspositori. Pendekatan ini menginginkan keaktifan siswa untuk
memperoleh informasi sampai menemukan konsep-konsep IPA. Dalam pendekatan ini
guru membimbing siswa menemukan sendiri konsep-konsep itu melalui kegiatan
belajarnya.
Ditinjau dari kadar keterlibatan
guru dalam pembelajaran, pendekatan ini terdiri dari :
1.
Pendekatan
Free Discovery (Penemuan Bebas)
Dengan pendekatan ini siswa diberi
kebebasan untuk memilih sendiri masalah yang akan dipelajari maupun cara untuk memecahkan
masalah tersebut. Pendekatan ini cocok bagi mereka yang sudah memiliki
kemampuan untuk berfikir formal. Namun menurut pengalaman piaget, ternyata
tidak banyak anak usia SD yang sudah mencapai tingkat pemikiran semacam itu.
2.
Pendekatan
Guide Discovery (Penemuan Terbimbing).
Pendekatan ini dapat dikatakan
sebagai gabungan dari pendekatan ekspositori dengan inkuari, tujuannya adalah
untuk mendapatkan efektivitas yang optimal khususnya bagi anak usia SD. Carin
dan Sund (1985) mengatakan anak-anak yang masih sangat muda, perlu mendapat
bimbingan guru yang relatif besar.
Pendekatan ini merupakan pendekatan yang paling tepat digunakan untuk anak usia
SD. Dalam hal ini siswa aktif melakukan eksplorasi atau observasi atas
bimbingan guru. Kegiatan ini dapat meningkatkan intelektual siswa, dan hasil
belajar menjadi lebih tinggi serta dapat mengembangkan sikap positif terhadap
IPA.
3.
Pendekatan
Eksploratory Discovery (Penemuan Eksploratorik). Dalam pendekatan ini tugas
guru antara lain:
a.
Melontarkan masalah-masalah
dan mengundang siswa untuk memecahkan masalah tersebut.
b.
Memberi
motivasi belajar.
c.
Membantu
siswa yang benar-benar memerlukan agar tidak mengalami jalan buntu atau
frustasi.
d.
Bila perlu,
guru sebagai narasumber.
Keuntungan dengan menggunakan pendekatan ini antara lain:
a.
Dapat
memberi kemampuan awal kepada siswa untuk melakukan sendiri suatu penelitian.
b.
Dapat memacu
keberanian siswa untuk melakukan penelitian secara mandiri dimasa yang akan datang.
c. Pendekatan
Proses
Pendekatan ini senada dengan
pendekatan inkuari, karena pendidikan ini menginginkan
keaktifan siswa dan juga guru tidak dominan dalam proses
pembelajaran tetapi bertindak sebagai organisator dan fasilitator saja.
Pendekatan ini memiliki ciri-ciri
khusus:
a.
Ilmu
pengetehuan tidak dipandang sebagai produk semata tetapi sebagai proses.
b.
Siswa
dilatih untuk terampil dalam memperoleh dan memproses informasi dalam
pikirannya.
d. Pendekatan
Konsep
Konsep adalah suatu ide yang
menghubungkan beberapa fakta. Dalam pencapaian atau pembentukan konsep biasanya
peserta didik memerlukan benda-benda konkrit untuk diotak-atik, eksplorasi
fakta-fakta dan ide-ide secara mental. Pendekatan konsep memerlukan lebih dari sekedar
menghafal, lebih menunjukkan gambaran yang lebih tepat tentang IPA.
e. Pendekatan STM
Pendekatan ini diyakini oleh para pakar pendidikan IPA di Amerika sebagai
pendidikan IPA yang paling tepat sebab mempersiapkan murid-murid untuk menghadapi
abad ke 21 yaitu abad ketergantungan manusia kepada sains dan teknologi.
Rasional dari pendekatan ini adalah segala penemuan dalam bidang sains dan
teknologi dapat untuk kesejahteraan manusia. Didalam pendekatan IPA dengan
pendekatan STM, guru membantu murid-murid mempelajari sains dengan menggunakan
isu-isu dalam masyarakat yang merupakan dampak sains dan teknologi sebagai
penata pembelajaran IPA.
f. Pendekatan Factual
Pendekatan ini menekankan penemuan fakta-fakta dalam IPA . Contoh informasi
yang didapatkan murid dengan pendekatan ini, misalnya ular termasuk golongan
reptil, merkurius adalah planet yang terdekat dengan matahari. Metode yang
digunakan dalam pendekatan ini adalah membaca, mengulang, melatih dan
lain-lain. Pada dasarnya pembelajaran IPA dengan pendekatan ini akan
menimbulkan kebosanan pada diri murid-murid dan tidak memberikan gambaran yang
benar tentang IPA.
g. Pendekatan
Terpadu (Integrated Approach)
Pendekatan ini intinya adalah memadukan dua unsur pembelajaran atau lebih dalam
suatu kegiatan pembelajaran dengan prinsip keterpaduan tertentu. Unsur
pembelajaran yang dapat dipadukan dapat berupa konsep dan pro-ses, konsep dari
satu mata pelajaran dengan konsep mata pelajaran lain, atau suatu metode dengan
metode lain. Dengan prinsip keterpaduan antar unsur pembelajaran diharapkan
terjadi peningkatan pemahaman ilmu yang lebih bermakna serta peningkatan
wawasan dalam memandang suatu permasalahan.
Prinsip keterpaduan dapat diciptakan melalui jembatan berupa tema sentral
sebagai fokus yang akan ditinjau dari beberapa konsep dalam satu atau beberapa
bidang ilmu. Selain itu dapat pula melalui jembatan berupa target perilaku atau
keterampilan tertentu yang dibutuhkan bukan hanya oleh satu disiplin ilmu saja.
Keragaman unsur yang dilibatkan dalam pembelajaran dapat memperkaya pengalaman
belajar siswa, kegiatan belajar menjadi lebih dinamis dan menarik serta dapat
meningkatkan motivasi belajar siswa. Selain itu apabila pendekatan terpadu ini
dilakukan secara sistematis dapat mengefisienkan penggunaan waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar