Pembelajaran
Berbasis Lingkungan Belajar pada hakekatnya adalah suatu interaksi antara
individu dan lingkungan. Lingkungan menyediakan rangsangan (stimulus) terhadap
individu dan sebaliknya individu memberikann respons terhadap lingkungnya.
Dalam proses interaksi itu dapat terjadi pada diri individu berupa perubahan
tingkah laku pada lingkungan merupakan faktor yang penting dalam proses
pembelajaran. Lingkungan (environment) sebagai dasar dalam pembelajaran adalah
faktor kondisional yang mempengaruhi tingkah laku individu dan merupakan faktor
yang penting.
Lingkungan
pembelajaran terdiri atas:
a. Lingkungan
sosial, adalah lingkungan masyarakat baik kelompok besar atau kelompok kecil.
b. Lingkungan
personal meliputi individu-individu sebagai pribadi berpengaruh terhadap
individu pribadi lainnya.
c. Lingkungan alam
(fisik) meliputi semua sumber daya alam yang dapat diberdayakan sebagai sumber
belajar.
d. Lingkungan kultur
mencakup hasil budaya dan teknologi yang dapat dijadikan sumber belajar dan
yang dapat menjadi faktor pendukung pembelajaran.
Dalam konteks ini
termasuk sistem nilai, norma, dan adat kebiasaan. Sebagai lingkungan
pendidikan, pembelajaran miliki fungsi-fungsi yaitu :
a. Fungsi psikologi
Stimulus bersumber dari lingkungan yang merupakan rangsangan terhadap individu
sehingga terjadi respons,yang menunjukkan tingkah laku tertentu.Respon ini
dapat dijadikan stimulus baru dan seterusnya, ini berarti lingkungan mengandung
makna dan melaksanakan fungsi psikologis tertentu.
b. Fungsi pedagogis
Lingkungan memberikan pengaruh-pengaruh yang bersifat mendidik, khususnya
lingkungan yang sengaja disiapkan sebagai suatu lembaga yang sengaja disiapkan
sebagai suatu lembaga pendidikan, misal keluarga, sekolah.lembaga pelatihan.
c. Fungsi
instruksional Program instruksional merupakan suatu lingkungan pembelajaran
yang dirancang secara khusus. Guru memberikan pembelajaran yang dirancang
secara khusus.
Penggunaan
lingkungan dan alam sekitar sangat penting, hal ini diungkapkan oleh susanto
(http://susantotutor.wordpress.com) bahwa alasan pemberdayaan lingkungan dan
alam sekitar sebagai media pembelajaran adalah:
1. Ketersediaannya yang tidak terbatas (alasan utama)
2. Sekolah bebas
menentukan sumber belajar yang dibutuhkan siswa (karena model pengembangan kurikulum
sudah desentralistik, tidak sentralistik lagi)
3. Optimalisasi pemberdayaan masyarakat untuk pendidikan
4. Pelestarian dan
pengembangan sumber daya alam serta peningkatan kualitas sumber daya manusia
secara merata.
Kiat guru dalam
memanfaatkan alam sebagai media pembelajaran Untuk mengoptimalkan proses
pembelajaran guru harus memiliki kiat yang tepat agar pemanfaatan alam sekitar
sebagai media pembelajaran agar dapat mengaktivkan siswa dalam proses
pembelajaran maka susanto dalam (http://susantotutor.wordpress.com)
menyampaikan kiat yang dapat diikuti guru untuk memilih lingkungan alam sebagai
media pembelajaran:
1) Pilih lingkungan
alam yang mampu mengembangkan kemampuan dan keterampilan fisik siswa.
2) Usahakan
lingkungan yang baru, yang berbeda dengan lingkungan kelas/sekolah agar siswa
berlatih beradaptasi.
3) Ciptakan suasana
yang membuat siswa merasakan peran-peran sosial yang baru.
4) Pilih lingkungan
alam yang mendukung pengembangan keterampilan dasar siswa dalam membaca,
menulis dan menghitung.
5) Cari suasana
lingkungan yang dapat mengembangkan hati nurani siswa melalu pengalaman
berinteraksinya.
6) Ciptakan permainan dan suasana belajar yang
dapat meningkatkan kerjasama kelompok dan kemampuan memimpin.
7) Pilih lingkungan
alam yang dapat mengembangkan daya kreatifitas, imajinasi, kemampuan motorik,
emosi, sosial, kognitif dan bahasa siswa.
Dalam menciptakan
suasana atau iklim pembelajaran yang menyenangkan, menantang dan kondusif dapat
dilakukan melalui:
a. Menyediakan
alternatif pilihan bagi peserta didik yang lambat maupun yang cepat dalam
melakukan tugas pembelajaran.
b. Memberikan
pembelajaran remidial bagi peserta didik yang kurang berprestasi atau prestasi
rendah.
c. Mengembangkan
organisasi kelas yang efektif, menarik, nyaman dan aman bagi perkembangan
potensi seluruh peserta didik secara optimal. D
. Menciptakan kerja
sama saling menghargai, baik antar peserta didik maupun antara peserta didik
dengan guru dan pengelola pembelajaran lainnya.
e. Melibatkan
peserta didik secara aktif dalam proses perencanaan belajar dan kegiatan
pembelajaran.
f. Mengembangkan
proses pembelajaran sebagai tanggung jawab bersama antara peserta didik,
sehingga guru lebih banyak bertindak sebagai fasilitator dan sebagai sumber
belajar.
g. Mengembangkan
sistem evaluasi belajar dan pembelajaran yang menekankan pada evaluasi diri
sendiri (Warsita, 2008:289).
Berdasarkan
pendapat di atas bahwa pembelajaran berbasis lingkungan adalah suatu bentuk
pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan alam sekitar sekolah yang berupa
perkebunan, pertanian atau peternakan/pemeliharaan hewan sebagai media
pembelajaran oleh siswa kelas dalam rangka mempermudah siswa memahami
konsep-konsep pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam melalui objek secara nyata di
lingkungan.
Aktivitas Belajar
Dalam standar proses pendidikan, kegiatan pembelajaran didesain untuk
membelajarkan siswa, menempatkan siswa sebagai subyek belajar. Seperti yang
tercantum dalam Bab IV pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 bahwa
proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif,
inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk
berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik
serta psikologis peserta didik. Hal ini jelas menunjukkan bahwa proses
pembelajaran terfokus pada aktivitas peserta didik. Dengan makna lain bahwa
pembelajaran ditekankan pada aktivitas siswa. Aktivitas siswa menurut Sardiman
(2007:100) adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun mental. Dijelaskan juga
oleh Usman (2000) bahwa aktivitas belajar adalah aktivitas jasmaniah dan
rohaniah, yang meliputi aktivitas visual, aktivitas lisan, aktivitas
mendengarkan, aktivitas gerak dan aktivitas menulis.
Aktivitas belajar
siswa secara jelas oleh Dierich dalam Sardiman, (2007: 101) menyatakan bahwa
jenis kegiatan siswa digolongkan ke dalam 8 kelompok, diantaranya;
(1) Visual
activities,
(2) Oral activities,
(3) Listening
activities,
(4) Writing
activities,
(5) Drawing
activities,
(6) Motor
activities,
(7) Mental
activities,
(8) Emosional
activities.
Pendapat Melvin
L. Silberman (2006) mengemukakan bahwa paham belajar aktif memberikan gambaran
tingkatan aktivitas belajar terhadap penguasaan materi yang dikuasainya, yaitu:
(1) apa yang saya
dengar saya lupa,
(2) apa yang saya
lihat saya ingat sedikit,
(3) apa yang saya
dengar, lihat dan tanyakan atau diskusikan saya mulai paham,
(4) apa yang saya
dengar, lihat, diskusikan dan lakukan sayamemperoleh pengetahuan dan
keterampilan,
(5) apa yang saya
ajarkan kepada orang lain saya kuasai.
Untuk mewujudkan
aktivitas belajar siswa Rianto & Dhari (1994) mengemukakan agar aktivitas
berjalan efektif, diperlukan keterlibatan secara terpadu, berkesinambungan dari
berbagai macam hal yaitu mengarah pada interaksi yang optimal, menuntut
berbagai jenis aktivitas peserta didik, strategi pembelajaran yang sesuai
dengan tujuan, dan menggunakan berbagai variasi media dan alat peraga.
Pemanfataan media alam sekitar dalam pembelajaran IPA di SD telah penulis
buktikan melalui penelitian tindakan kelas dengan judul Pemanfaatan Media Alam
Sekitar Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar IPA pada Siswa Kelas VI SD N 2
Banjarnegeri Gunung Alip Semester Genap Tahun Pelajaran 2011/2012. Hasil
penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan selama tiga siklus tersebut
memberikan peningkatan aktivitas belajar siswa. Hal tersebut membuktikan bahwa
pemanfaatan media alam sekitar dalam pembelajaran IPA di SD mempunyai dampak
yang positif terhadap peningkatan aktivitas belajar siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar