Menyoal Penghapusan Pelajaran IPA dan IPS di Sekolah Dasar
Oleh : Fadil
Abidin.
Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 rencananya akan diubah.Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sedang memprogramkankurikulum baru.
Secara garis besar, kurikulum baru bersifat menyederhanakan kurikulumyang lama,
baik tingkat SD, SMP maupun SMA.
Menurut
Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud) Bidang Pendidikan,Prof Dr
Ir H Musliar Kasim MS, penyederhanaan kurikulum ini akan direalisasikan
mulaitahun ajaran 2013-2014. Untuk tingkat SD, dua mata pelajaran, yakni Ilmu
PengetahuanSosial (IPS) dan dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) tak lagi menjadi
mata pelajaran tersendiriseperti yang selama ini berlaku.
Pada
kurikulum baru nanti, mata pelajaran SD hanya ada enam, yakni mata pelajaran
Agama,Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan atau PPKN, Bahasa Indonesia,
Matematika, SeniBudaya, serta mata pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan,
ujar Wamendikbud(Tribunnews.com, 21/10/2012).
Rencananya,
perombakan kurikulum juga nantinya akan diterapkan bagi siswa SMP danSMA. Untuk
SMP, yang wajib tetap enam mata pelajaran seperti tingkat SD tapi kemudianakan
ditambah Bahasa Inggris dan ilmu pengetahuan seperti IPA dan IPS. Adapun untuk tingkat
SMA, ilmu pengetahuan akan dipecah. Untuk IPA akan ada mata
pelajaranMatematika, Fisika dan Kimia. Untuk IPS akan ada mata pelajaran
Sosiologi danAntropologi.
Wamen
mengatakan, kurikulum baru ini akan mulai disosialisasikan dan diuji publik
sebelumFebruari 2013. Nantinya kurikulum baru ini akan menitikberatkan pada
mata pelajaran yangmembentuk sikap untuk siswa SD, mengasah keterampilan untuk
siswa SMP danmembangun pengetahuan untuk siswa SMA.
Dasar
penyederhanaan ini adalah untuk mengurangi beban kurikulum yang dianggap
terlaluberat, terutama oleh siswa SD. Selama ini siswa SD sudah terlalu banyak
dicekoki matapelajaran, misalnya Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan
(PKn), BahasaIndonesia, Matematika, Seni Budaya dan Keterampilan (SBK), Pendidikan
Jasmani danKesehatan (Penjaskes), IPA, IPS, Bahasa Inggris, dan mata pelajaran
muatan lokal.Bayangkan ada sebelas mata
pelajaran!
Tak jarang
kita mendapati anak-anak SD yang pergi dan pulang ke sekolah denganmemanggul
tas yang begitu besar. Tak jarang pula tas-tas mereka seperti tas tentara yang
maupergi berperang, atau tas travel bag yang mempunyai roda di bawah (troli)
seperti layaknyatas mau berlibur ke luar negeri. Anak-anak kita semakin bungkuk
akibat memanggul tas itusetiap hari.
Tiga
Aspek
Mata
pelajaran yang begitu banyak ternyata tidak berbanding lurus dengan tingkat
kognitif (kecerdasan), afektif (perilaku), dan psikomotorik
(keterampilan) peserta didik. Ketiga aspek yang harus diraih dalam
pendidikan ini justru tidak tampak. Pada aspek kognitif, kurikulum sekarang
hanya menghasilkan lulusan SD yang serba tanggung. Pada aspek afektif,
justrusemakin parah. Perilaku, sikap, sopan santun, etika, dan moralitas
kebanyakan siswa SDsudah banyak yang tidak
sesuai dengan umur mereka. Sudah sangat langka kita mendapatianak SD
yang bisa bertutur kata secara sopan, sikap menghargai orang tua, guru dan
teman.Bayangkan, masih SD saja mereka sudah berani melawan atau berkata kasar
kepada orangtua dan guru, apalagi kepada teman.
Maka
tidaklah heran jika kemudian di tingkat SMP dan SMA, siswa kemudian
terlibattawuran, pergaulan bebas, geng motor, narkoba, dan tindak kriminal.
Pelaku tindakantersebut sebenarnya adalah korban dari sistem pendidikan kita
yang tidak "memerdekakan".Sistem pendidikan kita dengan kurikulum dan
segala macam instrumen lainnya justru bersifatmengerdilkan dan memenjarakan
potensi peserta didik.
Jadi,
penyederhanaan kurikulum tersebut bukanlah obat mujarab untuk menyembuhkan
carutmarut dunia pendidikan kita. Harus ada langkah komprehensif yang
menyeluruh untuk membenahinya, salah satu aspek yang krusial adalah
penyelenggaraan UN (Ujian Nasional). Selama UN masih bersifat sentralistik,
hanya menguji aspek kognitif, dan soal berbentuk pilihan berganda hanya
untuk mata pelajaran tertentu saja. Maka semuanya menjadi omongkosong belaka,
hasil pendidikan kita hanya melahirkan robot-robot penghapal tanpa
dibarengi perilaku dan skill yang handal.
Ganti
Kurikulum
Adagium
"ganti menteri, ganti kurikulum" seolah menjadi keniscayaan dalam sistempendidikan
nasional. Ironisnya, pergantian tersebut bersifat tambal sulam. Terkadang
hanya"kemasan" saja yang berganti tapi substansi dan pelaksanaannya
tetap sama. Proyek gantikurikulum seolah menjadi target menteri yang
bersangkutan sebelum jabatannya berakhiragar namanya tercatat sebagai menteri
yang pernah membawa perubahan.
Penghapusan
pelajaran IPA dan IPS di SD patut dipersoalkan, apalagi kemudian
pemerintahberkilah dengan eufemisme "tidak dihapuskan", tapi dilebur
menjadi mata pelajaran barubernama Ilmu Pengetahuan Umum (IPU). Ini agak
membingungkan logika. Bagaimana keduadisiplin ilmu tersebut bisa digabungkan?
Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan hanyadibagi kepada dua kutub, yaitu
natural science (IPA) dan social science (IPS).
Sebenarnya
yang menjadi masalah bukan mata pelajaran IPA dan IPS, tapi beban
materipelajaran yang teramat berat di dalamnya. Untuk IPA misalnya, sudah ada
materi reproduksi(sistem perkembangbiakan), sistem rangka, peredaran darah,
pencernaan, pernafasan, materisoal gaya, dan sebagainya. Untuk IPS, sudah ada
materi sistem demokrasi dan pemerintahan,sistem pemilu, lembaga-lembaga negara,
mengenal negara-negara di dunia, dan materi-materilain yang sebenarnya terlalu
berat untuk siswa SD.
Jadi menurut
penulis, yang perlu diubah itu beban materi pelajarannya, bukan malahmenghapus
atau menggabungkannya menjadi satu pelajaran. Untuk IPA dan IPS tingkat
SD,selama ini pelajaran tersebut mempunyai porsi empat dan tiga jam pelajaran
per minggu, halini bisa dikurangi menjadi dua jam pelajaran per minggu saja.
Pengurangan jam pelajaran ini juga harus diikuti dengan pengurangan materi
pelajaran. Materi pelajaran atau pokok bahasanyang tidak relevan atau tidak
sesuai dengan tingkat perkembangan siswa SD harus dihapus.
Kebijakan penghapusan
dan atau penggabungan IPA-IPS menjadi IPU bukanlah langkah yang bijak. IPA
haruslah tetap menjadi pelajaran IPA, IPS tetaplah menjadi pelajaran IPSdengan
penekanan kepada penyederhanaan materi dari mata pelajaran tersebut
sehinggabenar-benar berfokus kepada pondasi yang perlu dibangun di dalam diri
anak-anak,sebagaimana amanat yang
sesungguhnya dari sebuah pendidikan dasar.
Di dalam
pelajaran IPA misalnya, semestinya pelajaran ini difokuskan kepada
pembentukansikap dasar ilmiah dalam diri anak-anak seperti rasa ingin tahu,
berpikir logis, pedulilingkungan, cermat, disiplin, bertanggungjawab dan jujur.
Sehingga dalam pembelajaran dikelas difokuskan kepada keterampilan dasar ilmiah
seperti mengamati, mengukur, melakukanpercobaan sederhana, mengelompokkan,
menyimpulkan, dan mengolah data secarasederhana.
Pelajaran
IPA bisa disajikan dalam bentuk kegiatan anak-anak mengamati lingkungan,hewan,
dan tumbuhan yang ada di sekitar sekolah atau tempat tinggal mereka. Bahkan
dalamIPA, sepotong selokan pun mempunyai banyak pelajaran yang bisa diambil
hikmahnya,misalnya tentang perkembangbiakan nyamuk (metamorfosis), rantai
makanan, bagaimanamencegah penyakit akibat gigitan nyamuk, cara mencegah
banjir, ekosistem dan sebagainya.Banyak dokter, ilmuwan, peneliti, ahli
biologi, ahli fisika, ahli kimia, bahkan ahli nuklirsekalipun tercipta dari
ketertarikan mereka terhadap IPA ketika di SD.
Jadi patut
dipertanyakan jika pemerintah benar-benar ingin menghapus pelajaran IPA-IPS
diSD. Penghapusan ini harus melalui dialog dengan semua elemen yang ada, para
ilmuwan,ahli pendidikan, akademisi, perguruan tinggi, sekolah, LSM, masyarakat,
guru dan jika perlumelibatkan para siswa. Pemerintah terkesan diam-diam dalam
perencanaan kurikulum baruini dengan tidak melibatkan pihak-pihak di luar
pemerintah, sehingga kebijakan tersebutcenderung otoriter atau sepihak.
Kurikulum
baru ini memang akan menitikberatkan pada mata pelajaran yang membentuk sikap untuk siswa SD. Membentuk sikap bukanlah
hal yang sederhana dan mudah. Sikap,perilaku, karakter, etika,
moralitas, soft skills, dan sejenisnya, tidaklah bisa diajarkan
secaraindoktrinasi melalui buku-buku pelajaran. Mengajarkan sikap harus melalui
sikap pula, yaitumelalui keteladanan dan pembiasaan.
Menjadi
pertanyaan, sudah siapkah guru-guru menjadi contoh dan teladan bagi siswa-siswanya? Bagaimana guru akan menjadi contoh yang
baik jika guru yang bersangkutan tidak mempunyai etika, suka
berbicara kasar, menghardik, membentak, dan suka memukul?
Berdasarkan
kondisi realitas yang ada, maka penulis mempunyai hipotesis bahwa kurikulumbaru
ini akan bernasib sama dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya. Kurikulum
yanghanya bagus di atas kertas, tapi implementasinya tidak bisa berjalan
sebagaimana mestinya.Maka akhirnya yang terjadi adalah, pembentukan sikap,
perilaku, karakter, etika, moralitas,dan sejenisnya, hanya menjadi pelajaran
teori yang tidak mempunyai arti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar